Indonesialivetv.com LAHAT — Pemerintah Kabupaten Lahat mulai membuka tahapan seleksi program pemagangan ke Jepang bagi putra-putri daerah. Kegiatan yang digelar di Hotel Santika, Senin (14/9/2026), ini resmi dibuka Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih SH MH dan menjadi program perdana yang pembiayaannya menggunakan APBD Kabupaten Lahat.
Seleksi tersebut merupakan kerja sama Pemerintah Kabupaten Lahat dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI serta pihak ketiga, IM Japan. Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala OPD, camat, anggota DPRD Komisi IV, perwakilan IM Japan, serta para peserta seleksi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lahat Mustofa Nelson, S.Sos., M.Si. mengatakan, jumlah peserta yang mengikuti seleksi mencapai 212 orang.
“Seleksi dilaksanakan mulai 14 sampai 18 September 2026,” ujar Mustofa.
Menurutnya, tahapan seleksi yang dilakukan di Kabupaten Lahat meliputi tes matematika, kesamaptaan, ketahanan fisik, hingga wawancara.
Namun, peserta yang dinyatakan lolos di Lahat belum otomatis berangkat ke Jepang. Mereka masih harus mengikuti tahapan seleksi lanjutan di Jakarta.
“Seleksi ini tidak sampai selesai di Lahat. Bukan berarti sekali seleksi langsung berangkat ke Jepang,” tegasnya.
Mustofa menjelaskan, peserta yang lolos dari tahapan di Lahat selanjutnya akan dibawa ke Jakarta untuk menjalani proses berikutnya sesuai mekanisme yang ditetapkan.
Ia menegaskan, tidak ada kuota kelulusan yang ditentukan berdasarkan persentase tertentu. Artinya, kelulusan sepenuhnya ditentukan oleh hasil seleksi.
“Tidak ada target dari kementerian, misalnya 30 persen atau 40 persen. Tergantung hasil seleksi peserta,” katanya.
Mustofa juga meminta panitia menjalankan proses seleksi secara profesional dan transparan. Menurutnya, hasil seleksi harus benar-benar murni berdasarkan kemampuan peserta.
“Pelaksanaan ini sangat penting dan hasilnya tidak bisa kita pengaruhi. Murni kita serahkan kepada panitia seleksi,” ujarnya.
Mustofa mengungkapkan, Pemkab Lahat ke depan memiliki rencana lebih besar. Jika mendapat dukungan anggaran, proses pemagangan diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh di Lahat, mulai dari seleksi awal hingga pemberangkatan.
Hal itu dinilai akan memudahkan peserta sekaligus meningkatkan efektivitas program.
“Ke depan kami merencanakan, kalau didukung anggaran Pemda Kabupaten Lahat, kegiatan serupa sampai selesai. Maksud saya, seleksi awal sampai pemberangkatan ada di Kabupaten Lahat,” jelasnya.
Kendala yang masih dihadapi, kata Mustofa, adalah belum tersedianya fasilitas penginapan bagi peserta untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Padahal, sebelum diberangkatkan ke Jepang, peserta membutuhkan pelatihan bahasa Jepang yang dapat berlangsung sekitar tiga bulan.
Ia mencontohkan Kabupaten Ogan Ilir yang telah mampu melaksanakan proses seleksi hingga tahap akhir di daerahnya.
Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih menegaskan, program ini merupakan bentuk inovasi pemerintah daerah untuk membuka peluang bagi generasi muda mendapatkan pengalaman, keterampilan, dan ilmu kerja di luar negeri.
Widia menyebut, penggunaan APBD untuk mendukung proses rekrutmen program pemagangan Jepang ini merupakan langkah pertama yang dilakukan Pemkab Lahat.
“Ini pertama kali kita memakai APBD untuk merekrut anak-anak Kabupaten Lahat mengikuti seleksi pemagangan ke Jepang,” kata Widia.
Ia menegaskan, peserta yang mengikuti seleksi belum bisa disebut lulus. Setelah menjalani tahapan di Lahat, peserta yang lolos masih harus menghadapi seleksi lanjutan di Jakarta.
“Sesudah lulus di Lahat, akan dibawa ke Jakarta. Ikut seleksi lagi untuk memastikan anak-anak tersebut memang layak mengikuti pemagangan Jepang,” jelasnya.
Widia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang menjanjikan kelulusan kepada peserta. Pemerintah daerah, kata dia, hanya dapat memberikan kesempatan dan memfasilitasi proses seleksi.
“Kalau Pak Bupati bilang, saya mau kasih anggaran tapi pastikan lulus, tidak bisa. Karena ada ketentuan dan mekanisme yang berlaku,” tegasnya.
Perwakilan IM Japan, Nurhidayat, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan program pemagangan ke Jepang selama tiga tahun. Peserta tidak semata-mata diarahkan untuk bekerja, tetapi juga mendapatkan pengalaman, kedisiplinan, etos kerja, dan keterampilan.
“Tujuannya peserta belajar etos kerja, disiplin kerja, dan keterampilan kerja selama tiga tahun di Jepang,” ujarnya.
Selama berada di Jepang, peserta juga akan mendapatkan pendampingan serta fasilitas yang telah disiapkan.
Nurhidayat mengatakan, hingga saat ini sekitar 55 ribu peserta telah diberangkatkan melalui program pemagangan ke Jepang. Sebagian di antaranya telah kembali ke Indonesia dan berhasil membangun usaha maupun karier setelah memperoleh pengalaman di Jepang.
Adapun bidang penempatan cukup beragam, antara lain manufaktur, produksi, pengecatan, pengelasan, asisten caregiver, hingga bidang konstruksi.
Untuk pelaksanaan di Indonesia, program tersebut berada di bawah tanggung jawab Kementerian Ketenagakerjaan RI. Sementara selama berada di Jepang, peserta mendapat pendampingan dari pihak terkait di Jepang.
Di sisi lain, Widia mengakui keberlanjutan program tersebut pada tahun depan masih sangat bergantung pada kondisi keuangan daerah.
Menurutnya, pemerintah memang dituntut terus berinovasi, tetapi pada saat bersamaan harus menghadapi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.
“Maunya seperti itu (dilaksanakan lagi), tetapi kita melihat dulu anggaran,” katanya.
Widia menyebut Pemkab Lahat masih menghadapi banyak pekerjaan rumah, mulai dari kondisi sekolah, fasilitas puskesmas, jalan, hingga infrastruktur irigasi yang rusak akibat banjir dan banjir bandang.
Karena itu, pemerintah harus cermat menentukan prioritas penggunaan anggaran.
Meski demikian, ia memastikan Pemkab Lahat akan terus berupaya membuka peluang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kita mau mencari pengalaman di luar, mencari ilmu di luar. Nanti ketika kembali ke Lahat, mereka sudah punya pengalaman, sudah melihat budaya dan bagaimana di Jepang, sehingga bisa ikut membangun Kabupaten Lahat,” pungkas Widia. (Ir)